Global warming (pemanasan global) merupakan salah satu isu yang sangat penting di seluruh dunia saat ini, selain terorisme. Para kepala negara di seluruh dunia selalu menyempatkan diri membahas isu ini pada momen-momen pertemuan tingkat regional maupun internasional. Begitu pentingnya isu ini, baru-baru ini panitia pemberi Nobel, The Norwegian Nobel Committee menganugerahkan Nobel Perdamaian kepada mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Albert Arnold (Al) Gore Jr, dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atas usahanya untuk membangun dan menyebarkan pengetahuan tentang global warming pada masyarakat dunia.
Global warming merupakan istilah yang menunjukkan peningkatan suhu rata-rata udara permukaan bumi dan lautan pada dekade terakhir dan peningkatan suhu ini masih akan terus berlangsung. Suhu udara rata-rata permukaan bumi meningkat 0.74 hingga 0.18°C dalam 100 tahun terakhir. Sedangkan IPCC memprediksi bahwa suhu global cenderung meningkat sebesar 1.1 sampai 6.4°C antara tahun 1990 dan 2100. Peningkatan suhu bumi sebenarnya dapat terjadi secara alami, namun penyebab utama global warming ini adalah tingginya level greenhouse gases, terutama CO2 dan metan di atmosfer akibat aktifitas manusia, seperti tingginya laju pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan fungsi lahan terutama deforestasi.
Bahasan...
Pemanasan Global merupakan peristiwa meningkatnya suhu di atmosfer, laut dan daratan bumi. Pemicu utamanya adalah pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam yang dibuang melalui asap knalpot, cerobong pabrik, pemakaian CFC pada pendingin udara dan alat elektronik lain yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfir. Ketika semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, atmosfir semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi. Akibatnya bumi menyerap lebih banyak energi matahari daripada yang dilepas kembali ke luar angkasa.
1. Efek Rumah Kaca
Efek rumah kaca dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses. Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Nah, panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang.
Efek rumah kaca terjadi alami karena memungkinkan kelangsungan hidup semua makhluk di bumi. Tanpa adanya Gas Rumah Kaca, seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), atau dinitro oksida (N2O), suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin.
Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca.
Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer (Gas Rumah Kaca) sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya. Maka, panas matahari yang tidak dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula. Semua proses itu lah yang disebut efek rumah kaca. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak dari efek rumah kaca.
Bukti-bukti bahwa efek rumah kaca itu terjadi adalah :
a) Berdasarkan ilmu fisika, beberapa gas mempunyai kemampuan untuk menahan panas. Tak ada yang patut diragukan dari pernyataan ini.
b) pengukuran yang dilakukan sejak tahun 1950-an menunjukkan tingkat konsentrasi Gas Rumah Kaca meningkat secara tetap, dan peningkatan ini berhubungan dengan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan industri dan berbagai aktivitas manusia lainnya.
c) Penelitian menunjukkan udara yang terperangkap di dalam gunung es telah berusia 250 ribu tahun, yang berarti bahwa konsentrasi Gas Rumah Kaca di udara berbeda-beda di masa lalu dan masa kini. Perbedaan ini menunjukkan adanya perubahan temperatur. Dan juga konsentrasi Gas Rumah Kaca terbukti meningkat sejak masa praindustri.
Yang termasuk dalam kelompok gas rumah kaca adalah karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). Jenis GRK yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas rumah kaca adalah karbondioksida, metana, dan dinitro oksida. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) di sektor energi dan transport, penggundulan hutan , dan pertanian . Sementara, untuk gas rumah kaca lainnya (HFC, PFC, SF6 ) hanya menyumbang kurang dari 1%.
2. Perubahan Iklim
Salah satu isu yang mengemuka dari perubahan iklim tersebut adalah pemanasan global yang merupakan tantangan paling penting dan sulit yang dihadapi masyarakat internasional. Isu mengenai pemanasan global (global warming) sebenarnya bukanlah isu baru. Jauh sebelum dideklarasikannya Kyoto Protocol, seabad yang lalu Arrhenius dalam suatu karya tulis ilmiahnya yang dimuat Philosophical Magazine and Journal pada tahun 1896 mengangkat isu ini. Dalam tulisan tersebut, dia menunjukkan adanya indikasi peningkatan emisi CO2 dari konsumsi energi fosil dalam proses industrialiasi.
Hingga saat ini, upaya substansial yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah Kyoto Protocol. Meskipun Amerika Serikat dan Australia menolaknya, kesepakatan internasional ini telah diadopsi dan diratifikasi oleh hampir semua Negara dan mulai diberlakukan sejak 16 Februari 2005. Protokol Kyoto ini merupakan upaya terbesar yang pernah dilakukan oleh masyarakat internasional untuk mengatasi masalah lingkungan global.
Sementara itu, dari sisi konsumsi energi, tingkat konsumsi energi dunia selama dua dekade terakhir yakni dari tahun 1980 hingga tahun 2000 mencapai 34 %. Tingkat konsumsi energi dunia diperkirakan akan meningkat hingga 50 % dalam dua dekade mendatang. Minyak bumi masih amat mendominasi kebutuhan energi dunia. Penggunaan bahan bakar minyak berbasis fosil saat ini ditengarai menjadi penyebab utama perubahan iklim dunia.
Di seluruh dunia, minyak bumi, batubara, dan gas alam memasok 88 % dari kebutuhan energi global. Padahal, ketiga jenis energi itu bisa menghasilkan gas-gas seperti karbondioksida (CO2), Metana (CH4) dan nitrogen oksida (N2O) yang jumlahnya semakin lama semakin memenuhi kuota atmosfer dunia. Gas-gas tersebut memiliki sifat seperti kaca yang membungkus bumi dengan ’selimut buatan’.
Selain dampak lingkungan yang mulai terasa dari konsumsi energi berbasis fosil seperti minyak bumi, kenaikan harga minyak yang akhir-akhir ini kian meroket dan diperkirakan akan menembus level 90 dolar AS/barel juga harus diantisipasi sebijaksana mungkin. Bagi Indonesia sendiri, naiknya harga minyak dunia akan sedikit banyak berpengaruh kepada APBN dan ekonomi domestik.
Neraca minyak Indonesia sendiri sebenarnya sudah dalam kondisi yang memprihatinkan. Indikasinya adalah, jika pada tahun 2002 Indonesia masih mengalami surplus sebesar 2 miliar dolar AS dari selisih antara ekspor dan impor minyak mentah, di tahun 2006, surplusnya tinggal 316 juta dolar AS. Angka ini kemungkinan akan terus tergerus mengingat dalam periode Januari hingga Agustus 2007, surplus ekspor atas impor minyak mentah Indonesia tinggal 108 juta dolar AS.
3. Dampak Global Warming
Berbagai kejadian di berbagai penjuru dunia belakangan ini semakin mendukung fakta terjadinya global warming ini. Istilah – istilah baru terkait berbagai bencana di duniapun semakin terbiasa di telinga kita akhir-akhir ini, misalnya nama-nama badai dan topan yang terjadi di berbagai negara seperti badai Katrina, Rita, Durian, Pabuk, Wutip, Usagi, Dean, Felix, Fitow, Henritte dan sebagainya.
Global warming juga diyakini sebagai penyebab munculnya wabah penyakit-penyakit yang disebarkan oleh vektor. Dimana, perubahan iklim dapat merubah pola distribusi dari vektor-vektor tersebut dan juga mempengaruhi laju reproduksi dan maturasi dari agen infektif yang ada di dalam tubuh vektor. Kondisi inilah yang diyakini menjadi salah satu penyebab tingginya kejadian Malaria dan Dengue pada beberapa negara, termasuk Indonesia.
Ilmuwan telah meyakini bahwa suhu bumi yang semakin tinggi akan mempercepat hilangnya spesies-spesies hewan dari muka bumi. Global warming pada skala global dan regional diprediksi akan merubah distribusi spesies, sejarah hidup spesies, komposisi komunitas, dan juga fungsi ekosistem. Selain itu, merebaknya penyakit infeksius pada beberapa hewan domestik maupun hewan liar yang disebabkan oleh global warming telah menjadi bukti bahwa ancaman global warming terhadap kesehatan hewan benar-benar sudah ada di depan mata.
Bukti-Bukti mengenai berkembangnya penyakit akibat dampak dari global warming antara lain :
Merebaknya penyakit Bluetongue di dataran Eropa antara tahun 1998-2005. Penyakit ini telah membunuh lebih dari 1.5 juta ekor domba dan menyebabkan periode ini sebagai periode wabah bluetongue terlama dan terbesar dalam sejarah Eropa. Lima serotipe virus bluetongue diketahui telah menginvasi Eropa pada periode ini. Kasus wabah bluetongue ini terjadi di beberapa negara atau wilayah yang sebelumnya dilaporkan sama sekali tidak pernah terdapat kasus Culicoides-borne arboviral disease, seperti Turki, dataran Yunani, Bulgaria, beberapa negara Balkan, dataran Italia, Sicily dan Sardinia, Corsica, kepulauan Balearic, dan Tunisia. Kejadian ini sekarang dihubungkan dengan kejadian pemanasan global di wilayah Eropa. Dari hasil penelitian yang dilakukan, terindikasi bahwa penyebaran dramatis dari vektor Culicoides imicola ke wilayah yang tidak pernah mengalami infeksi bluetongue sebelumnya atau transimisi virus bluetongue oleh vektor baru, C. obsoletus dan C. pulicaris, hanya terjadi di area-area yang secara nyata mengalami pemanasan suhu. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan langsung antara kemunculan bluetongue di Eropa dengan global warming.
Adanya keterlibatan global warming terhadap punahnya 67% dari sekitar 110 spesies katak Atelopus sp. dari pegunungan Costa Rica akibat infeksi fungi patogen Batrachochytrium dendrobatidis sekitar 20 tahun lalu. Atelopus sp merupakan spesies katak endemis di wilayah tropis benua Amerika. Analisa hubungan periode kepunahan terhadap perubahan level permukaan laut dan suhu udara menunjukkan bahwa pemanasan global telah menyebabkan suhu lingkungan pada sebagian besar pegununganpegunungan di wilayah Amerika Selatan dan Tengah bergerak mendekati suhu optimum pertumbuhan fungi pathogen B. dendrobatidis sehingga menyebabkan wabah dan mengakibatkan punahnya sebagian spesies Atelopus sp.
Selain itu, perubahan iklim akan mengubah distribusi nyamuk-nyamuk malaria dan penyakit-penyakit menular lainnya, sehingga mempengaruhi distribusi musiman penyakit alergi akibat serbuk sari dan meningkatkan resiko penyakit-penyakit pada saat gelombang panas (heat waves). Sedangkan, tentu saja seharusnya akan lebih sedikit kematian yang disebabkan oleh udara dingin
Beberapa kasus di atas telah memperlihatkan bahwa dampak negatif global warming terhadap kejadian penyakit pada hewan adalah nyata. Tidak hanya itu, peristiwa El Nino-Southern Oscillation, salah satu fenomena alam yang juga dipengaruhi oleh global warming, diketahui juga berpengaruh pada pathogen yang hidup di laut yang menyebabkan penyakit pada oyster dan coral.
Walaupun sampai saat ini bukti keterlibatan global warming terhadap wabah penyakit menular pada hewan domestik baru ditunjukkan oleh munculnya wabah bluetongue di dataran Eropa yang telah disebutkan di atas, kita harus tetap waspada terhadap kemunculan-kemunculan wabah penyakit lainnya jika tidak ada usaha-usaha untuk memperlambat laju global warming. Banyak penyakit penting hewan domestik yang baik kemunculannya atau pun siklus hidup agen penyebabnya secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh faktor-faktor cuaca, seperti suhu dan kelembaban udara. Misalnya :
Anthrax Suhu, kelembaban udara, dan kelembaban tanah mempengaruhi keberhasilan germinasi dari spora Bacillus anthracis. Wabah biasanya berhubungan dengan perubahan musim hujan dan kemarau, serta suhu lingkungan yang tinggi.
Haemorrhagic septicaemia (pasteurellosis) Agen penyebab, Pasteurella multocida, dapat bertahan hidup di luar tubuh inang pada lingkungan yang lembab dan kejadian penyakit biasanya terjadi pada musim hujan.
Haemonchosis Kemampuan hidup telur dan larva dari Haemonchus contortus, sampai mereka termakan oleh inang, bergantung pada suhu dan kelembaban. Pada kondisi lingkungan yang hangat dan kelembaban yang moderat, larva dapat hidup berminggu-minggu sampai berbulan-bulan.
Masih banyak lagi penyakit-penyakit pada hewan domestik dan hewan liar yang kemunculannya atau pun siklus hidup vektor dan agen penyebabnya dipengaruhi oleh faktor suhu dan kelembaban lingkungan. Sehingga, perubahan cuaca akibat global warming dapat mempengaruhi waktu kemunculan wabah ataupun intensitas wabah dari penyakit-penyakit tersebut.
4. Pengurangan Pemakaian Gas Rumah Kaca
Setiap kepala penduduk di negara barat mengeluarkan emisi karbondioksida 25 kali lebih banyak daripada penduduk di negara-negara berkembang. Lima pengemisi karbondioksida terbesar di dunia adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, dan Jepang. Ini yang menyebabkan PHal ini yang menyebabkan Protokol Kyoto HANYA mengharuskan negara-negara maju, yang juga kaya, untuk menurunkan emisinya lebih dahulu. Ironisnya, Cina sebagai negara berkembang menunjukkan sikap kepemimpinan dalam menanggapi isu perubahan iklim, berkebalikan dengan negara-negara industri yang kian terpuruk. Emisi karbondioksida Cina pada tahun 1998 turun hingga 4% dengan tingkat ekonomi naik hingga lebih dari 7%.
Penting diingat, emisi gas rumah kaca harus dikurangi. Jadi harus dibangun sistem industri dan transportasi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara). Kalau perlu, tidak menggunakannya sama sekali. Karena perubahan iklim adalah masalah global, penyelesaiannya pun mesti secara internasional. Langkah pertama yang dilakukan adalah pembuatan kerangka konvensi untuk perubahan iklim (Framework Convention on Climate Change) tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brazil, yang ditandatangani oleh 167 negara. Kerangka konvensi ini mengikat secara moral semua negara-negara industri untuk menstabilkan emisi karbondioksida mereka. Sayangnya, hanya sedikit negara industri yang memenuhi target. Langkah selanjutnya berarti membuat komitmen yang mengikat secara hukum dan memperkuatnya dalam sebuah protokol. Dibuat lah Kyoto Protocol atau Protokol Kyoto. Tujuannya: mengharuskan negara-negara industri menurunkan emisinya secara kolektif sebesar 5,2 % dari tingkat emisi tahun 1990.
Working Group III — IPCC membuat studi teknologi dan ekonomi secara literatur untuk menunjukkan kebijakan berorientasi pasar yang dirancang sungguh -sungguh agar dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus kebijakan pembiayaan untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Studi ini dibuat agar akibat dari pemanasan global dan perubahan iklim tetap dapat memberikan manfaat ekonomi, termasuk lebih banyak sistem energi yang cost-effective, terjadinya inovasi teknologi yang lebih cepat, mengurangi pengeluaran untuk subsidi yang tidak tepat, dan pasar yang lebih efisien.
Pada intinya negara-negara di dunia berusaha melakukan efisiensi energi dan memasyarakatkan penggunaan energi yang dapat diperbarui (renewable energy) untuk mengurangi atau bahkan menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Denmark adalah salah satu negara yang tetap menikmati pertumbuhan ekonomi yang kuat meskipun harus mengurangi emisi gas rumah kaca.
Kesimpulan...
Pemanasan global terjadi karena meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Dalam Wikipedia Indonesia dijelaskan bahwa temperatur rata-rata permukaan bumi selama seratus tahun terakhir meningkat sekitar 0,18°C. Sebagian peneliti menyatakan bahwa dampak dari efek rumah kaca menjadi penyebab utama.
Peningkatan temperatur sebesar 3oC selama abad ini akan memberikan dampak negatif bagi keanekaragaman ekosistem (biodiversity) yang berperan dalam kehidupan manusia seperti penyediaan makanan dan air.
Perubahan iklim akan mengubah distribusi nyamuk-nyamuk malaria dan penyakit penyakit menular lainnya sehingga meningkatkan resiko penyakit-penyakit terutama pada saat gelombang panas (heat waves) melanda.
Jika kita kesulitan untuk memulai hal yang besar dalam upaya penanggulangan global warming, maka minimal dimulai dari diri sendiri misal :
Mengajak teman-teman untuk selalu mengumpulkan kertas yang sudah tidak terpakai. Tumpukan kertas ini dapat di loak atau jika Anda berbaik hati dan tidak mau repot untuk mendaur ulangnya, berikan saja kepada pemulung. Biasanya mereka akan menjual kertas tersebut ke tempat daur ulang.
Membuat sistem ‘menebeng’ saat akan pergi ke kantor. Walaupun aksi menebeng ini hanya dilakukan 2 kali seminggu, namun dapat mengurangi emisi karbon dioksida hingga 3509 kg per tahunnya. Bila perlu, hentikan penggunaan kendaraan pribadi dan beralihlah ke angkutan umum, setidaknya bisa mengurangi emisi karbon dan kemacetan.
Mematikan seluruh alat elektronik yang tidak digunakan dan membiasakan untuk mencabut kabel elektronik dari stop kontak. Sekalipun Anda mematikan alat elektronik, namun jika kabel tidak dicabut, maka alat-alat tersebut tetap menggunakan energi.
Bila perlu beralih ke pemakaian laptop yang menggunakan energi lebih sedikit dibandingkan penggunaan desktop.
Posted by
Khairurais's Blogger
at
1:58 PM
Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu berarti "pelabuhan", dan nami berarti "gelombang", sehingga tsunami dapat diartikan sebagai "gelombang pelabuhan". Istilah ini pertama kali muncul di kalangan nelayan Jepang. Karena panjang gelombang tsunami sangat besar, pada saat berada di tengah laut, para nelayan tidak merasakan adanya gelombang ini. Namun setibanya kembali ke pelabuhan, mereka mendapati wilayah di sekitar pelabuhan tersebut rusak parah. Karena itulah mereka menyimpulkan bahwa gelombang tsunami hanya timbul di wilayah sekitar pelabuhan, dan tidak di tengah lautan yang dalam.
Tsunami adalah gelombang air yang sangat besar yang dibangkitkan oleh macam-macam gangguan di dasar samudra. Gangguan ini dapat berupa gempa bumi, pergeseran lempeng, atau gunung meletus. Tsunami tidak kelihatan saat masih berada jauh di tengah lautan, namun begitu mencapai wilayah dangkal, gelombangnya yang bergerak cepat ini akan semakin membesar.
Tsunami juga sering disangka sebagai gelombang air pasang. Ini karena saat mencapai daratan, gelombang ini memang lebih menyerupai air pasang yang tinggi daripada menyerupai ombak biasa yang mencapai pantai secara alami oleh tiupan angin. Namun sebenarnya gelombang tsunami sama sekali tidak berkaitan dengan peristiwa pasang surut air laut. Karena itu untuk menghindari pemahaman yang salah, para ahli oseanografi sering menggunakan istilah gelombang laut seismik (seismic sea wave) untuk menyebut tsunami, yang secara ilmiah lebih akurat.
Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut dengan kedalaman7000 m misalnya, kecepatannya bisa mencapai 942,9 km/jam. Kecepatan ini hampir samadengan kecepatan pesawat jet. Namun demikian tinggi gelombangnya di tengah laut tidak lebihdari 60 cm. Akibatnya kapal-kapal yang sedang berlayar diatasnya jarang merasakan adanyatsunami. Berbeda dengan gelombang laut biasa, tsunami memiliki panjang gelombang antara duapuncaknya lebih dari 100 km di laut lepas dan selisih waktu antara puncak-puncak gelombangnya berkisar antara 10 menit hingga 1 jam. Saat mencapai pantai yang dangkal, teluk,atau muara sungai gelombang ini menurun kecepatannya, namun tinggi gelombangnyameningkat puluhan meter dan bersifat merusak.
Sebab-sebab terjadinya Tsunami
Tsunami dapat dipicu oleh bermacam-macam gangguan (disturbance) berskala besar terhadap air laut, misalnya gempa bumi, pergeseran lempeng, meletusnya gunung berapi di bawah laut, atau tumbukan benda langit. Tsunami dapat terjadi apabila dasar laut bergerak secara tiba-tiba dan mengalami perpindahan vertikal.
Longsoran Lempeng Bawah Laut (Undersea landslides)
Gerakan yang besar pada kerak bumi biasanya terjadi di perbatasan antar lempeng tektonik. Celah retakan antara kedua lempeng tektonik ini disebut dengan sesar (fault). Sebagai contoh, di sekeliling tepian Samudra Pasifik yang biasa disebut dengan Lingkaran Api (Ring of Fire), lempeng samudra yang lebih padat menunjam masuk ke bawah lempeng benua. Proses ini dinamakan dengan penunjaman (subduction). Gempa subduksi sangat efektif membangkitkan gelombang tsunami.
Gempabumi Bawah Laut (Undersea Earthquake)
Gempa tektonik merupakan salah satu gempa yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng bumi. Jika gempa semacam ini terjadi di bawah laut, air di atas wilayah lempeng yang bergerak tersebut berpindah dari posisi ekuilibriumnya. Gelombang muncul ketika air ini bergerak oleh pengaruh gravitasi kembali ke posisi ekuilibriumnya. Bila wilayah yang luas pada dasar laut bergerak naik ataupun turun, tsunami dapat terjadi.
Aktivitas Vulkanik (Volcanic Activities)
Pergeseran lempeng di dasar laut, selain dapat mengakibatkan gempa juga seringkali menyebabkan peningkatan aktivitas vulkanik pada gunung berapi. Kedua hal ini dapat menggoncangkan air laut di atas lempeng tersebut. Demikian pula, meletusnya gunung berapi yang terletak di dasar samudra juga dapat menaikkan air dan membangkitkan gelombang tsunami.
Tumbukan Benda Luar Angkasa (Cosmic-body Impacts)
Tumbukan dari benda luar angkasa seperti meteor merupakan gangguan terhadap air laut yang datang dari arah permukaan. Boleh dibilang tsunami yang timbul karena sebab ini umumnya terjadi sangat cepat dan jarang mempengaruhi wilayah pesisir yang jauh dari sumber gelombang. Sekalipun begitu, bila pergerakan lempeng dan tabrakan benda angkasa luar cukup dahsyat, kedua peristiwa ini dapat menciptakan megatsunami.
Karakteristik Tsunami
Bila lempeng samudra pada sesar bergerak naik (raising), terjadi air pasang di wilayah pantai hingga wilayah tersebut akan mengalami banjir sebelum kemudian gelombang air yang lebih tinggi datang menerjang.
Bila lempeng samudra bergerak naik, wilayah pantai akan mengalami banjir air pasang sebelum datangnya tsunami.
Bila lempeng samudra pada sesar bergerak turun (sinking), kurang lebih pada separuh waktu sebelum gelombang tsunami sampai di pantai, air laut di pantai tersebut surut. Pada pantai yang landai, surutnya air bisa mencapai lebih dari 800 meter menjauhi pantai. Masyarakat yang tidak sadar akan datangnya bahaya mungkin akan tetap tinggal di pantai karena ingin tahu apa yang sedang terjadi. Atau bagi para nelayan mereka justru memanfaatkan momen saat air laut surut tersebut untuk mengumpulkan ikan-ikan yang banyak bertebaran.
Bila lempeng samudra bergerak turun, di wilayah pantai air laut akan surut sebelum datangnya tsunami.
Pada suatu gelombang, bila rasio antara kedalaman air dan panjang gelombang menjadi sangat kecil, gelombang tersebut dinamakan gelombang air-dangkal. Karena gelombang tsunami memiliki panjang gelombang yang sangat besar, gelombang tsunami berperan sebagai gelombang air-dangkal, bahkan di samudra yang dalam.
Penutup
Demikian makalah ini, semoga memberikan pengetahuan kepada pembaca dan semoga bermanfaat.
Posted by
Khairurais's Blogger
at
4:56 PM
PLTN adalah stasiun pembangkit listrik thermal dimana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir pembangkit listrik. PLTN termasuk dalam pembangkit daya base load, yang dapat bekerja dengan baik ketika daya keluarannya konstan (meskipun boiling water reactor dapat turun hingga setengah dayanya ketika malam hari). Daya yang dibangkitkan per unit pembangkit berkisar dari 40 MWe hingga 1000 MWe. Unit baru yang sedang dibangun pada tahun 2005 mempunyai daya 600-1200 MWe.
Prinsip kerja PLTN, pada dasarnya sama dengan pembangkit listrik konvensial yaitu air diuapkan didalam suatu ketel melalui pembakaran. Uap yang dihasilkan dialirkan ke turbin yang akan bergerak apabila ada tekanan uap. Perputaran turbin digunakan untuk menggerakkan generator, sehingga menghasilkan tenaga listrik.
Hingga tahun 2005 terdapat 443 PLTN berlisensi di dunia, dengan 441 diantaranya beroperasi di 31 negara yang berbeda. Keseluruhan reaktor tersebut menyuplai 17% daya listrik dunia.
Reaktor nuklir yang pertama kali membangkitkan listrik adalah stasiun pembangkit percobaan EBR-I pada 20 Desember 1951 di dekat Arco, Idaho, Amerika Serikat. Pada 27 Juni 1954, PLTN pertama dunia yang menghasilkan listrik untuk jaringan listrik (power grid) mulai beroperasi di Obninsk, Uni Soviet. PLTN skala komersil pertama adalah Calder Hall di Inggris yang dibuka pada 17 Oktober 1956.
PLTN dikelompokkan berdasarkan jenis reaktor yang digunakan. Tetapi ada juga PLTN yang menerapkan unit-unit independen, dan hal ini bisa menggunakan jenis reaktor yang berbeda. Sebagai tambahan, beberapa jenis reaktor berikut ini, di masa depan diharapkan mempunyai sistem keamanan pasif.
Reaktor Fisi
Reaktor daya fissi membangkitkan panas melalui reaksi fissi nuklir dari isotop fissil uranium dan plutonium.
Selanjutnya reaktor daya fissi dikelompokkan lagi menjadi:
Reaktor Thermal
Reaktor thermal menggunakan moderator neutron untuk melambatkan atau me-moderate neutron sehingga mereka dapat menghasilkan reaksi fissi selanjutnya. Neutron yang dihasilkan dari reaksi fissi mempunyai energi yang tinggi atau dalam keadaan cepat, dan harus diturunkan energinya atau dilambatkan (dibuat thermal) oleh moderator sehingga dapat menjamin kelangsungan reaksi berantai. Hal ini berkaitan dengan jenis bahan bakar yang digunakan reaktor thermal yang lebih memilih neutron lambat ketimbang neutron cepat untuk melakukan reaksi fissi. Macam-macamnya :
¤ Light water reactor (LWR)
Boiling water reactor (BWR)
Pressurized water reactor (PWR)
SSTAR, a sealed, reaktor untuk jaringan kecil, mirip PWR
¤ Moderator Grafit
Magnox
Advanced gas-cooled reactor (AGR)
High temperature gas cooled reactor (HTGR)
RBMK
Pebble bed reactor (PBMR)
¤ Moderator Air berat
SGHWR
CANDU
Reaktor Cepat
Reaktor cepat menjaga kesinambungan reaksi berantai tanpa memerlukan moderator neutron. Karena reaktor cepat menggunkan jenis bahan bakar yang berbeda dengan reaktor thermal, neutron yang dihasilkan di reaktor cepat tidak perlu dilambatkan guna menjamin reaksi fissi tetap berlangsung. Boleh dikatakan, bahwa reaktor thermal menggunakan neutron thermal dan reaktor cepat menggunakan neutron cepat dalam proses reaksi fissi masing-masing.
Meski reaktor nuklir generasi awal berjenis reaktor cepat, tetapi perkembangan reaktor nuklir jenis ini kalah dibandingkan dengan reaktor thermal.
Keuntungan reaktor cepat diantaranya adalah siklus bahan bakar nuklir yang dimilikinya dapat menggunakan semua uranium yang terdapat dalam urainum alam, dan juga dapat mentransmutasikan radioisotop yang tergantung di dalam limbahnya menjadi material luruh cepat. Dengan alasan ini, sebenarnya reaktor cepat secara inheren lebih menjamin kelangsungan ketersedian energi ketimbang reaktor thermal. Lihat juga reaktor fast breeder. Karena sebagian besar reaktor cepat digunakan untuk menghasilkan plutonium, maka reaktor jenis ini terkait erat dengan proliferasi nuklir.
Lebih dari 20 purwarupa (prototype) reaktor cepat sudah dibangun di Amerika Serikat, Inggris, Uni Sovyet, Perancis, Jerman, Jepang, India, dan hingga 2004 1 unit reaktor sedang dibangun di China. Berikut beberapa reaktor cepat di dunia :
EBR-I, 0.2 MWe, AS, 1951-1964.
Dounreay Fast Reactor, 14 MWe, Inggris, 1958-1977.
Enrico Fermi Nuclear Generating Station Unit 1, 94 MWe, AS, 1963-1972.
EBR-II, 20 MWe, AS, 1963-1994.
Phénix, 250 MWe, Perancis, 1973-sekarang.
BN-350, 150 MWe plus desalination, USSR/Kazakhstan, 1973-2000.
Prototype Fast Reactor, 250 MWe, Inggris, 1974-1994.
BN-600, 600 MWe, USSR/Russia, 1980-sekarang.
Superphénix, 1200 MWe, Perancis, 1985-1996.
FBTR, 13.2 MWe, India, 1985-sekarang.
Monju, 300 MWe, Jepang, 1994-sekarang.
PFBR, 500 MWe, India, 1998-sekarang.
(Daya listrik yang ditampilkan adalah daya listrik maksimum, tanggal yang ditampilkan adalah tanggal ketika reaktor mencapai kritis pertama kali, dan ketika reaktor kritis untuk terakhir kali bila reaktor tersebut sudah di dekomisi (decommissioned).
Reaktor Subkritis
Reaktor subkritis menggunakan sumber neutron luar ketimbang menggunakan reaksi berantai untuk menghasilkan reaksi fissi. Hingga 2004 hal ini hanya berupa konsep teori saja, dan tidak ada purwarupa yang diusulkan atau dibangun untuk menghasilkan listrik, meskipun beberapa laboratorium mendemonstrasikan dan beberapa uji kelayakan sudah dilaksanakan.
Reaktor Fusi
Fusi nuklir menawarkan kemungkinan pelepasan energi yang besar dengan hanya sedikit limbah radioaktif yang dihasilkan serta dengan tingkat keamanan yang lebih baik. Namun demikian, saat ini masih terdapat kendal-kendala bidang keilmuan, teknik dan ekonomi yang menghambat penggunaan energi fusi guna pembangkitan listrik. Hal ini masih menjadi bidang penelitian aktif dengan skala besar seperti dapat dilihat di JET, ITER, dan Z machine.
» Lokasi PLTN
PLTN harus dibangun pada suatu tempat yang memenuhi syarat-syarat bebas dari adanya fenomena alam yang dapat mengancamnya atau secara teknis dapat menghindarkannya. Misalnya harus bebas dari kemungkinan bahaya alam (vulkanologi, tsunami, tornado, dsb) dimana teknologi tidak dapat digunakan untuk mengatasinya maupun bahaya yang dibuat oleh manusia (dekat dengan lapangan terbang, dekat dengan fasilitas militer yang mempunyai gudang amunisi, dll). Disamping itu PLTN juga harus mempunyai fasilitas jaringan listrik yang dapat memasok cadangan dan sekaligus menyalurkan hasil listriknya dalam suatu batasan teknis tertentu.
Keuntungan dan Kekurangan PLTN
a. Keuntungan PLTN dibandingkan dengan pembangkit daya utama lainnya adalah :
b. Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca (selama operasi normal) - gas rumah kaca hanya dikeluarkan ketika Generator Diesel Darurat dinyalakan dan hanya sedikit menghasilkan gas)
c. Tidak mencemari udara - tidak menghasilkan gas-gas berbahaya sepert karbon monoksida, sulfur dioksida, aerosol, mercury, nitrogen oksida, partikulate atau asap fotokimia.
d. Sedikit menghasilkan limbah padat (selama operasi normal).
e. Biaya bahan bakar rendah - hanya sedikit bahan bakar yang diperlukan.
f. Ketersedian bahan bakar yang melimpah - sekali lagi, karena sangat sedikit bahan bakar yang diperlukan .
g. Baterai nuklir.
Berikut ini berberapa hal yang menjadi kekurangan PLTN :
b. Resiko kecelakaan nuklir - kecelakaan nuklir terbesar adalah kecelakaan Chernobyl (yang tidak mempunyai containment building).
c. Limbah nuklir - limbah radioaktif tingkat tinggi yang dihasilkan dapat bertahan hingga ribuan tahun.
» Pengolahan Limbah Radioaktif
a) Pengolahan Limbah Gas
Limbah gas berbeda dengan limbah lainnya, karena harus diolah sendiri oleh pihak reactor dengan cara pengembalian radionuklida menggunakan filter dan arang aktif. Filter dan arang aktif yang sudah jenuh dikirim ke pengolah limbah radioaktif sebagai limbah padat. Limbah gas ditampung di tangki peluruhan atau alat sejenis sampai nuklida berumur pendek mengalami peluruhan. Kemudian diproses menggunakan filter dan arang aktif sampai aktifitas tersisa memenuhi syarat untuk dibuang ke lingkungan. Diestimasikan bahwa satu unit PLTN akan melepas limbah gas dibawah 1014Bq/tahun. Filter dan arang aktif selanjutnya diolah sebagai limbah padat aktivitas rendah dan sedang.
b) Pengolahan Limbah Cair.
Pengolahan limbah cair dilakukan dengan cara evaporasi menggunakan evaporator. Pengolahan menggunakan evaporator disebabkan adanya faktor dekontaminasi yang tinggi (103-105) pada limbah tersebut. Pada proses evaporasi volume limbah cair diperkecil, kemudian dipadatkan dengan semen atau dengan gelas masif di dalam wadah yang kedap air, tahan banting (misalnya terbuat dari beton bertulang atau dari baja tahan karat), setelah itu diukur aktivitasnya. Kemudian dikirim ke penyimpanan sementara. Selain menggunakan cara evaporasi menggunakan evaporator, bias juga menggunakan cara pertukaran ion (proses ultrafiltrasi), elektrodialisis, serta reverse osmosis.
c) Pengolahan Limbah Padat
Pengolahan limbah padat dilakukan dengan cara memperkecil volumenya melalui proses insenerasi/pembakaran , selanjutnya abu hasil pembakaran dipadatkan menggunakan semen. Limbah padat yang tidak dapat dibakar diperkecil volumenya dengan penekanan, dan dipadatkan dalam drum/beton dengan semen. Sedangkan untuk limbah padat yang tidak dapat dibakar maupaun ditekan, harus dipotong-potong dan dimasukkan dalam beton kemudian dipadatkan dengan semen atau gelas masif. Selanjutnya limbah radioaktif yang telah diolah disimpan secara sementara (10-50 tahun) digudang penyimpanan limbah yang kedap air sebelum disimpan secara lestari. Tempat penyimpanan limbah lestari dipilih di tempat/lokasi yang khusus, dengan kondisi geologi yang stabil dan secara ekonomi tidak bermanfaat.
d) Pengolahan Limbah Resi Bekas
Pengolahan limbah resin bekas, teknologi yang ada di BATAN adalah imobilisasi laangsung dengan semen dan dimasukkan dalam wadah untuk penyimpanan sementara. Metode ini sebenarnya perlu dimodifikasi mengingat campuran resin dan semen cenderung menimbulkan sweeling. Diprediksikan untuk jenis reaktor PWR dengan daya 900-1000 MWe menimbulkan resin bekas sekitar 30 m . Radionuklida yang dominan mengontaminasi resin ini adalah Mn-54, Co-58, Co-60, Cs-134, Cs-137 dan radioaktivitas terbesar pada Co-60 (2,16 x 10-1 Ci/MWe) dan Cs-137 (1,66 x 10-1 Ci/MWe). Terdapat banyak alternative teknologi untuk pengolahan/conditioning resin bekas yaitu :
- Dewatering/Drying (DD) - Wet Oxidation
- Incinerator - Vitrification
- Molten Metal Catalytic Destruction - Solidification/Encaptululation
- Steam Reforming
Dewatering/Drying yang dilakukan di Korea Selatan merupakan teknologi yang paling sederhana dan mudah diaplikasikan. Resin hanya dikeringkan dan langsung disimpan dalam wadah tertentu.
e) Penyimpanan Sementara dan Penyimpanan Akhir
Seluruh limbah yang telah diolah dan dimasukkan dalam wadah disimpan di fasilitas penyimpanan sementara paling tidak selama 20 tahun. Hal ini berguna untuk peluruhan radionuklida, sekaligus mungkin sebagian dari limbah radioaktif sangat rendah akan dilepas ke lingkungan bila kondisinya lebih rendah dari nilai clearance level. Akhir dari proses adalah disposal limbah radioaktif di fasilitas penyimpanan dekat permukaan (near surface disposal). Tujuannya adalah mencegah nuklida dalam limbah bermigrasi ke air tanah, hal ini dilakukan dengan pendekatan penghalang ganda. Penghalang pertama adalah media soldifikasi limbah tersebut (semen, bitumen, dsb). Penghalang kedua adalah wadah atau drum limbah. Penghalang ketiga adalah struktur fasilitas penyimpanan akhir. Penghalang keempat adalah media sekitar fasilitas penyimpanan akhir tersebut.
-> Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain :
1. Prinsip kerja PLTN, pada dasarnya sama dengan pembangkit listrik konvensial yaitu air diuapkan didalam suatu ketel melalui pembakaran. Uap yang dihasilkan dialirkan ke turbin yang akan bergerak apabila ada tekanan uap. Perputaran turbin digunakan untuk menggerakkan generator, sehingga menghasilkan tenaga listrik.
2. PLTN merupakan suatu industri energi yang relatif aman dibandingkan dengan industri energi yang lainnya, tetapi dalam pembangunannya dalam pembangunannya harus selalu diteliti dan diawasi kendalanya mulai dari sejak tahap persiapan, pengembangan dan pengoperasiannya.
3. Energi nuklir lebih menguntungkan ditinjau dari segi lingkungan karena tidak menghasilkan unsur berbahaya seperti unsur logam berat (Cd, Pb, As, Hg).
4. PLTN membutuhkan biaya investasi yang sangat besar tetapi setelah beroperasi, PLTN hanya memerlukan biaya bahan bakar yang lebih rendah dibanding dengan pembangkit listrik yang lainnya.
Posted by
Khairurais's Blogger
at
10:02 PM
Pertama: Wanita Muslimah senantiasa beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai Rabbnya, percaya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam sebagai Nabinya, dan percaya Islam sebagai agamanya. Dan tampak wujud iman itu dalam perkataan, amalan dan I’tiqad. Dia senantiasa waspada, menjauhi murka Allah dan takut pada kepedihan adzab-Nya serta menjauhi apa-apa yang menyelisihi perintah-Nya.
Kedua: Wanita Muslimah senantiasa menjaga shalat lima waktu dengan wudhunya dan khusu’nya serta memperhatikan waktunya. Kesibukan tertentu tidak menjadikan shalat terabaikan. Kesenangan tertentu tidak sampai melalaikan ibadah. Sehingga tampaklah padanya dampak dari penghayatan shalat. Karena sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan shalat juga merupakan benteng yang besar dari kemaksiatan.
Ketiga: Wanita Muslimah senantiasa menjaga dan memelihara hijab. Merasa senang hati dan mulia dengan busana muslimah itu. Dia tidak keluar kecuali selalu menutup auratnya dan memohon perlindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan dia bersyukur kepadaNya atas kemulian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hijab tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah menjaga dan menginginkan kesucian dirinya. Allah berfirman:
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuhnya”. (al-Ahzab: 59)
Keempat: Wanita Muslimah senantiasa bersemangat untuk menjalankan ketaatan pada suaminya, bersikap lemah lembut terhadapnya, menyayanginya, dan mendorongnya kepada kebaikan, memberi nasehat kepadanya dan menjadikan sang suami bisa beristirahat. Dia tidak meninggikan suara terhadapnya dan tidak menyakiti dalam kata-kata.
Telah tersebut di dalam riwayat yang shahih bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
Apabila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadlan dan taat pada suaminya niscaya dia masuk surga Rabbnya. (HR. Ahmad dan Thabarani).
Kelima: Wanita Muslimah senantiasa mendidik anak-anaknya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengajarkan pada mereka aqidah yang benar, menanamkan pada hati mereka kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kecintaan pada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam, serta menjauhkan mereka dari kemaksiatan dan akhlaq yang tercela. Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim:6)
Keenam: Wanita Muslimah tidak bersepi-sepi dengan laki-laki asing (bukan mahram). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
Tidaklah seorang perempuan bersepi-sepi dengan seorang laki-laki kecuali setan menjadi yang ketiganya. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Al-Hakim)
Sehingga dia tidak bepergian tanpa mahram, dan tidak mendatangi pasar-pasar dan tempat-tempat umum kecuali dalam kondisi mendesak sambil memakai hijab, terselimuti dan rapi tertutup.
Ketujuh: Wanita Muslimah tidak menyerupai laki-laki pada perkara yang khusus bagi laki-laki. Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam :
Allah melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki. (Hadits shahih).
Dan jangan sampai menyerupai perempuan-perempuan kafir pada ciri khas mereka dalam hal pakaian, gerak-gerik, dan tingkah laku, dan lainnya. Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam
Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka. (HSR. Ahmad, Abu Dawud dan lainnya)
Kedelapan: Wanita Muslimah sebagai seorang da’i yang menyeru menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala di barisan perempuan dengan bahasa yang baik, dengan berkunjung ketetangga, dengan menelpon saudari-saudarinya, dengan kitab-kitab kecil dan kaset-kaset Islami. Dia juga melakukan apa yang ia katakan, dan giat untuk menyelamatkan diri dan saudarinya dari adzab Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :
Sesungguhnya bila Allah memberikan hidayah kepada satu orang lantaran anda, itu lebih baik bagi anda daripada harta yang termahal. (HSR. Bukhari dan Muslim).
Kesembilan: Wanita Muslimah senantiasa menjaga hatinya dari perkara syubhat (yang samar) dan syahwat serta menjaga matanya dari perkara yang haram. Menjaga telinganya dari musik, perkataan cabul/jorok dan dosa. Menjaga anggota tubuh seluruhnya dari penyimpangan. Dan mengetahui bahwa yang demikian ini adalah taqwa. Sabda Rasulullah (yang artinya):
Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Barangsiapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya niscaya dia akan menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya dan (menjaga) perut dan apa yang dimuatnya. Dan barangsiapa yang mengingat kematian dan kebinasaan, dia akan meninggalkan perhiasan kehidupan dunia. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim).
Kesepuluh: Wanita Muslimah memelihara waktunya agar tidak terbuang sia-sia, menjaga siang hari atau malamnya agar tidak berantakan. Dia menjauhkan diri dari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), ataupun mencaci, dan hal-hal yang tidak berguna lainnya. Allah berfirman (yang artinya):
Dan jauhilah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau dan mereka telah terpedaya dengan kehidupan dunia. (Al-An’am:70)
Allah Ta’ala berfirman tentang kaum yang menyia-nyiakan umurnya, bahwa mereka akan berkata:
Betapa ruginya kami karena apa-apa yang telah kami lalaikan di dalamnya (dunia) (Al-An’am: 31)
Ya Allah... berikan petunjuk kepada pemuda-pemudi Islam menuju apa yang Engkau cintai dan ridhai, dan isilah hati mereka dengan iman. Mudah-mudahan shalawat dan salam tercurahkan kepada nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Posted by
Khairurais's Blogger
at
8:24 PM
Bioskop merupakan salah satu tempat dimana akustik adalah hal yang sangat penting yang perlu diperhatikan demi kenyamanan penonton di dalamnya. Dengan perancangan sistem akustik yang tepat, maka suara yang dihasilkan akan tersebar secara maksimal di seluruh ruangan sehingga kenyamanan menonton film di bioskop akan terasa lebih sempurna. Bagaimana jika kenyamanan itu dipindahkan ke dalam rumah kita khususnya kamar pribadi kita? Di sini akan kami jelaskan mengenai rancangannya.
Sebelumnya kita harus mengerti apa itu room acoustic, room acoustic adalah kualitas yang menentukan kemampuan dari suatu ruang untuk merefleksikan gelombang suara sedemikian hingga menghasilkan keadaan rata-rata suara yang tersebar maksimal ke seluruh objek dalam ruangan terhadap sumber suara. Dalam istilah inggris disebut dengan “distinct hearing”.
Adapun standar akustik yang perlu diperhatikan antara lain :
1. Eksternal Noise
Faktor-faktornya yaitu bangunan lain, lalu lintas, tempat bermain, pesawat terbang, dsb.
2. Internal Noise
Faktor-faktornya yaitu ruangan lain misal ruang tamu, dapur, toilet, dsb.
3. Room Noise
Faktor-faktornya yaitu suara percakapan, nada dering HP, Air Conditioner, dsb.
Kemudian, langkah-langkah selanjutnya adalah :
I. Penanganan Akustik
Maksud dari penanganan akustik ini adalah untuk memperoleh waktu gema dan respon frekuensi yang cukup rata. Dimana cara menentukannya dapat dilihat pada jurnal-jurnal tentang akustik misalnya Journal of Acoustical Society of America oleh M.schroeder yang berjudul New method of measuring reverberation time, dll.
II. Posisi Speaker
Sebagai trik untuk menurunkan resonansi, maka letak loudspeaker jangan sejajar dengan dinding ruangan dan juga jangan mendengarkan sumber suara dengan memposisikan diri di pusat ruangan. Letakkan loudspeaker 1,5 m dari posisi pendengar. Tiga pasang loudspeaker dipasang sebagai mana ditunjukkan gambar (1) berikut.
Posted by
Khairurais's Blogger
at
9:32 PM
Perselisihan dalam menentukan hari raya, baik hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul Adha menjadi sebuah fenomena yang sering kali terjadi di kalangan kaum Muslimin. Seakan-akan makna “al-`id” yang seharusnya sesuatu yang berulang dengan penuh kegembiraan dan keceriaan, berubah menjadi sebuah permasalahan yang berulang-ulang tiap tahunnya dengan perselisihan dan pertengkaran.
Sebagai seorang muslim, tidak ada jalan lain kecuali beramal di atas bashirah dan ilmu yang akan menerangi jalan untuknya menuju keridhaan Allah. Maka dalam pembahasan masalah ini, penulis berusaha untuk memberikan pemahaman tentang sebab terjadinya perselisihan, dan kiat yang tepat dalam bersikap, sehingga kita terlepas dari jeratan pertikaian dan termasuk orang yang berpegang teguh dengan tali Allah. Semoga Allah memberi taufiq kebenaran kepada penulis, sehingga dijauhkan dari kesalahan dalam penulisan dan pemahaman.
MENGAPA BERSELISIH DALAM MENENTUKAN HARI RAYA?
Perselisihan ini, tidak hanya terjadi di kalangan para ulama sebelumnya dalam permasalahan ijtihad, akan tetapi diperparah lagi dengan masuknya orang-orang yang tidak mengetahui agama (munafik), atau orang yang cenderung mengikuti akalnya sendiri,1 masuk ke dalam kancah permasalahan ini sehingga semakin memperkeruh masalah.
Perselisihan yang terjadi dalam menentukan ke dua hari raya ini, dapat kita bagi dalam beberapa permasalahan.
Pertama. Adanya silang pendapat dalam cara menentukan hari raya, dengan hisab ataukah ru’yah hilal.
Kedua. Adanya perbedaan pendapat yang menyangkut mathla` hilal pada setiap negeri atau tidak. Dalam arti, jika misalnya terlihat hilal di Arab Saudi, wajibkah semua umat Islam untuk berpuasa atau berbuka? Ataukah setiap negeri berhukum dengan mathla`nya sendiri-sendiri?
Ketiga. Mensikapi keputusan pemerintah dalam menentukan jatuhnya hari raya. Sebagian yang tidak sependapat dengan pemerintah mengambil tindakan yang dianggapnya benar. Dan sebagian lagi, dalam melihat ru’yah hilal, berkiblat kepada negara lain, dan begitu seterusnya sehingga terjadilah kekacauan dan perselisihan di mana-mana.
RU’YAH ATAU HISAB?
Ada dua catatan penting menanggapi permasalahan di atas.
Pertama. Menggunakan hisab untuk membuat sebuah hukum dalam syari’at dan meninggalkan ru’yah hilal, ditakutkan terkena ancaman dari ayat Allah, yaitu orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kebenaran, dan juga jatuh ke dalam takwil Rasulullah bahwa umat Islam akan mengikuti perjalanan (tasyabbuh) kepada umat terdahulu, baik secara disengaja ataupun tidak.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: “Telah sampai kepada saya, bahwa syari’at sebelum kita juga mengaitkan hukum dengan hilal. Kemudian terjadi perubahan karena ulah tangan-tangan jahil dari para pengikut syari’at itu sendiri, sebagaimana telah diperbuat oleh Yahudi dalam bertemunya dua bujur, serta menjadikan sebagian hari raya mereka dengan menggunakan tahun Masehi. Begitu juga yang dilakukan kaum Nashrani dalam berpuasa, dengan memperhatikan bertemunya dua bujur di awal tahun Masehi, serta menjadikan semua hari raya mereka dengan menggunakan penanggalan tahun Masehi, sesuai dengan kejadian yang dialami Al Masih. Begitu juga dengan kaum Shabi`ah, Majusi dan dari kalangan kaum musyrikin lainnya dalam penggunaan ishthilah (penanggalan). Adapun yang dibawa oleh syari’at kita merupakan hal yang paling baik, apik, jelas, tepat dan jauh dari pertentangan”.2
Kedua. Pembahasan penentuan hari raya dengan menggunakan ru’yah sudah bersifat final, setelah adanya Ijma` selama tiga abad secara berturut-turut. Sehingga tidak ada jalan untuk berijtihad setelah terjadinya Ijma`, sebagaimana yang telah diterangkan dalam ushul syari’ah.
Syaikhul Islam Rahimahullah berkata: “Sebagaimana telah kita ketahui dari agama Islam, bahwa menggunakan hisab untuk menentukan sesuatu dengan cara melihat hilal, seperti: puasa, haji, iddah, ila` atau lainnya, yang menyangkut permasalahan hukum dengan hilal, tidaklah dibenarkan. Nash-nash dari Nabi tentang hal ini sangatlah banyak. Dan kaum muslimin telah Ijma` (sepakat) dengan permasalahan tersebut. Sama sekali tidak diketahui adanya perselisihan lama ataupun perselisihan baru, kecuali setelah abad ketiga, yakni oleh sebagian mutaakhirin dari kalangan ahli fiqih gadungan yang belum matang.3 Yaitu dengan pernyataan “jika hilal terhalangi awan, maka ahli hisab diperbolehkan menggunakan hisab untuk dirinya sendiri. Jika hisab (tersebut) menunjukkan ru’yah, maka dia boleh berpuasa. Jika tidak menunjukkan hilal, maka tidak boleh”. Pendapat ini telah didahului oleh Ijma` yang mengingkarinya, meskipun hanya berlaku untuk cuaca mendung dan dikhususkan untuk orang yang mengetahui ilmu hisab itu sendiri. Akan tetapi, mengikuti hisab ketika cuaca cerah, atau menggantungkan hukum untuk kalangan umum dengan hisab, maka tidak seorang muslimpun pernah mengatakannya.”4
Ketika Lajnah Da-imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta`, Arab Saudi, ditanya tentang hal serupa, mereka menjawab: “Sesungguhnya Allah mengetahui yang telah dan yang akan terjadi tentang perkembangan ilmu falak dan ilmu pengetahuan lainnya. Sekalipun begitu, Allah berfirman,’Barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan bulan tersebut, maka hendaklah berpuasa’ (QS Al Baqarah:185). Dan RasulNya menerangkan lebih jelas dengan sabda Beliau :
Berpuasalah kalian dengan melihat hilal, dan berbukalah dengan melihatnya. (Hadits)5. Maka, Beliau mengaitkan mulainya puasa bulan Ramadhan dan berakhirnya Ramadhan, yaitu dengan melihat hilal dan tidak mengkaitkannya dengan hisab bintang-bintang. Sekalipun dia mengetahui bahwa ilmu falak akan berkembang dengan hisab bintang dan menentukan perjalanannya. Oleh karena itu, kaum muslimin wajib kembali kepada syari’at Allah melalui lisan NabiNya, dengan menggunakan ru’yah hilal dalam berpuasa dan berhari raya. Dan ini merupakan Ijma` dari ahli ilmu. Barangsiapa yang menyelisihinya dan menggunakan hisab bintang-bintang, maka pendapatnya aneh dan tidak dapat digunakan”. (Tertanda, Ketua: Abdul Aziz, Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi, Anggota: Abdullah bin Qu`ud).6
(Majalah As-Sunnah edisi 07 Tahun VIII/1425H/2004M)
1) Lihat Majmu` Fatawa (25/128-130).
2) Majmu` Fatawa (25/135).
3)Sebagian menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu Syuraih, Mutharif bin Abdullah dan Ibnu Qutaibah. Nisbat kepada kepada Ibnu Syuraih dan Abdullah ini tidak benar. Adapun Ibnu Qutaibah, pendapatnya dalam masalah ini tidak perlu ditanggapi. Lihat Nailul Authar (4/502), Dar Ash Shumai`i; Tharhut Tatsrib, Al Iraqi (2/2-112).
4) Majmu` Fatawa (25/132-133).
5) HR Muslim, Kitab Shiyam, Bab Wujub Shaumi Ramadhan Li Ru’yatil Hilal, Syarah Muslim (3/134,135).
6) Fatawa Ramadhan (1/118-119).
Posted by
Khairurais's Blogger
at
8:57 PM
Magnitudo gempa adalah parameter gempa yang berhubungan dengan besarnya kekuatan gempa di sumbernya. Jadi pengukuran magnitudo yang dilakukan di tempat yang berbeda, harus menghasilkan harga yang sama walaupun gempa yang dirasakan di tempat-tempat tersebut tentu berbeda.
Ada bermacam-macam jenis magnitudo gempa, diantaranya adalah:
1. Magnitudo lokal ML (local magnitude)
2. Magnitudo gelombang badan MB (body-wave magnitude)
3. Magnitudo gelombang permukaan MS (surface-wave magnitude)
4. Magnitudo momen MW (moment magnitude)
5. Magnitudo gabungan M (unified magnitude)
Namun yang paling populer adalah magnitudo lokal ML yang tak lain adalah Magnitudo Skala Richter (SR). Karena Richter menggunakan bilangan logaritma berbasis 10, maka setiap kenaikan 1 angka pada skala Richter menunjukkan amplitudo 10 kali lebih besar.
Posted by
Khairurais's Blogger
at
8:35 PM
Dilakukan percobaan serapan sinar gamma untuk menentukan koefisien serapan sinar gamma dan tebal paroh dari bahan lead dan polyethylene menggunakan detector MCA. Isotop yang digunakan adalah 137Cs. Untuk material lead, dari percobaan diperoleh hasil yaitu harga koefisien serapan sinar gamma adalah 0,9833cm-1 dan tebal paroh lead adalah 0,70477 cm. Untuk material polyethylene, diperoleh harga koefisien serapan sinar gamma adalah 0,0127 cm-1, dan tebal paroh polyethylene 54,5669 cm.
Koefisien serapan sinar gamma merupakan suatu konstanta pembanding yang menghubungkan antara besarnya intensitas sumber radioaktif yang terserap dengan ketebalan suatu bahan penyerap. Besarnya koefisien serapan sinar gamma dapat ditentukan dengan mencacah intensitas sumber radioaktif 137Cs yang memancarkan sinar gamma dengan detektor MCA. Untuk mendapat cacahan yang murni dari sinar gamma, maka dalam percobaan perlu dicari cacah latar terlebih dahulu. Setelah cacahan latar ini diperoleh maka cacahan latar ini nantinya digunakan untuk mengurangi dari jumlah cacahan atau intensitas yang diperoleh, maksudnya bahwa intensitas sebenarnya yang dapat dipakai dalam perhitungan adalah intensitas yang dihasilkan oleh isotop tanpa bahan penyerap ataupun isotop dengan bahan penyerap dikurangi dengan intensitas dari cacah latar. Hal ini dikarenakan bahwa di alam sekitar terdapat unsur-unsur radioaktif yang dapat terdeteksi oleh detektor.
Jika bahan penyerap yang berupa lempengan lead diletakkan diantara sumber sinar gamma 137Cs dan detektor, maka intensitas yang terbaca pada MCA akan berkurang karena sebagian intensitas terserap oleh lempeng lead. Dapat dikatakan bahwa harga intensitas radiasi menurun secara ekponensial terhadap ketebalan bahan penyerap sinar gamma yang mempunyai tenaga tinggi akan menghasilkan pulsa yang tinggi sedangkan sinar gamma bertenaga rendah akan menghasilkan pulsa yang rendah pula. Di lain pihak intensitas sinar gamma yang terdeteksi mempengaruhi cacah elektron yang dibebaskan. Makin tinggi intensitas sinar gamma makin banyak electron yang dibebaskan dan makin banyak pula pulsa yang dihasilkan oleh detektor.
Ketebalan lead yang digunakan sebagai bahan penyerap masing-masing adalah 0.250 inch; 0.125 inch; 0.062 inch; dan 0.032 inch. Besarnya nilai merupakan slope dari grafik hubungan antara intensitas sumber sinar gamma terhadap beberapa ketebalan lempeng lead. Dimana dalam bentuk grafik sumbu X sebagai fungsi ketebalan dari bahan penyerap dan sumbu Y sebagi fungsi dari nilai –ln . Dengan analisa regresi linier diperoleh besarnya nilai serapan sinar gamma adalah 0,9833cm-1.
Hasil dari dari percobaan tidak dapat dibandingkan dengan data referensi, karena nilai tergantung pada energi foton sumber sinar gamma dan bahan penyerap yang digunakan dalam percobaan.
Posted by
Khairurais's Blogger
at
8:30 PM

